Semoga Tuhan Memberkati Mu Tahun ini

Saya mendoakan Anda, semoga Tuhan memberkati dan memberi panjang umur, sukses dalam pekerjaan

Kamis, Oktober 08, 2009

HALAL BIHALAL

HALAL BIHALAL

"Dengan hikmah halal bihalal, silaturahmi kita tingkatkan rasa kebersamaan dan persatuan untuk mewujudkan masyarakat Kutai kartanegara yang cerdas, berahlak mulia, adil, mandiri dan sejahtera",

demikian tema hala bihalal yang dilaksanakan oleh kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata beserta keluarga dengan jajaran staf Disbudpar, instansi lainnya, para undangan dan kerabat terdekat di Tenggarong Seberang pada hari Rabu 7 Oktober 2009.

Drs.H.M.Idrus Sy,M.Si menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran para undangan, ada yang jauh-jauh datang dari Kembang Janggut, Muara badak, dll. Ada sekitar 200 orang yang hadir pada acara tersebut. Halal bihalal ini juga disuguhi siraman rohani/ceramah dan doa agar kedepan masyarakat Kutai Kartanegara tetap cerdas.

Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih atas kehadirannya dalam rangka silaturahmi dan halal bihalal. Saya sekarang berada di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar, jadi nuansa-nuansa seni, budaya sudah mulai mengalir, ujar beliau.

Disela-sela sambutannya, Drs.H.M.Idrus Sy,M.Si melontarkan beberapa pantun, seperti:

buluh ditebang dijadikan pagar tanaman
agar tidak diganggu binatang peliharaan
jauh-jauh para undangan berdatangan
kami ucapkan terimakasih atas perhatian
waduk panji sukarame
tempat wisata permainan
disana juga terdapat danau ikan
berlaku ramai dan halal bihalal itu tujuan

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga kita semua mendapat berkat...amin...

Setelah penyampaian ceramah dan doa, kemudian Drs.H.M.Idrus Sy,M.Si beserta keluarga dan didampingi oleh DR.H.A.R.M Haryanto Bahroel bersalaman dengan para undangan.

tuani sianipar


Rabu, September 16, 2009

MEMBANGUN SILATURAHMI



Kepala dinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs.H.M.Idrus Sy,M.Si pada Rabu 16 September 2009 dalam tema "Membangun Silaturahmi Keluarga Besar" BUDPAR memberikan paket lebaran kepada Staf Budpar bertempat di ruang aula Disbudpar.

Menurut salah satu staf bagian promosi Misnawati,S.Sos menyampaikan bahwa pemberian paket ini sangat membantu meringankan keperluan di rumah dalam menyambut lebaran 2009 (1430 H), ucapan terima kasih disampaikan kepada Kepala Dinas atas pemberian paket ini. Beliau menyarankan agar di tahun-tahun yang akan datang lebih ditingkatkan lagi.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H
Minal 'Aidin wal fa'izin - Mohon maaf lahir dan bathin

tuani sianipar

Kamis, September 10, 2009

JOURNAL MAHASISWA KKN UNMUL


Tenggarong

Menjadi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kompetensi Kelompok 007 di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kutai Kartanegara benar-benar memberikan kesan tersendiri bagi kami. Dari awalnya saja, untuk masuk ke Dinas ini, kami butuh “perjuangan” panjang. Mulai dari surat pengantar dari LPPM Unmul yang hilang karena keteledoran salah seorang staf, waktu yang sangat singkat untuk mengurus KKN di Disbudpar, hingga sulitnya meminta tanda tangan karena pejabatnya ternyata sedang tugas dinas ke luar kota (maklum Disbudpar…jalan-jalan…).

Tapi perjuangan kami itu tidak sia-sia. Masuk sebagai mahasiswa KKN di dinas ini bukan berarti kami diperlakukan “berbeda”. Sambutan staf-staf dan pegawai-pegawai Disbupar pada kami sangat ramah. Tidak ada satupun pegawai yang mendiskriminasikan kami. Kami diperlakukan sama seperti staf dan pegawai lainnya.

Bukan hanya itu, setiap ada kegiatan yang diselenggarakan oleh Disbudpar, kami selalu diajak untuk ikut berpartisipasi. Diantaranya adalah Festival Erau Adat Tempong Tawar (yang juga menjadi puncak kesibukan kami di dinas ini), mangikuti kegiatan Pelatihan Pemandu Wisata, menjadi pramuwisata (tourist guide), bahkan sampai kegiatan administratif di kantor sehari-hari, seperti mengisi situs Disbudpar, mengetik surat, dan lain-lain. Oleh karena itulah kami sangat menikmati bekerja menjadi “pegawai temporer” di kantor ini, meskipun kami hanya 2 bulan (10 juli-10 September 2009) mengalami pengalaman once of a lifetime seperti ini. Meskipun banyak suka dan duka yang kami alami, tapi kami tidak akan pernah melupakan kantor ini, dan kebaikan seluruh pegawai di sini. Semoga mahasiswa KKN Unmul tahun berikutnya mau memilih untuk KKN di Disbudpar Kutai Kartanegara, karena mereka juga pasti akan mengalami pengalaman yang luar biasa, sama seperti perasaan kami terhadap kantor ini.

Terima kasih kami pada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs. H. M. Idrus Sy, M.Si yang mau menerima dan membimbing kami, Sekretaris H. Fachrodin (lewat tangan Bapak lah kami bisa menginjakkan kaki di kantor ini), Kepala Bidang Umum Drs. Supriyadi yang sangat membantu kami dari awal bekerja di kantor dan mau menempatkan kami sesuai dengan program studi kami, kemudian tak lupa pula pada Kepala Bidang tempat kami bekerja: Kabid Kebudayaan, Kabid Pemasaran, Kabid Keuangan, dan juga Kasi-Kasi kami, Kasi Promosi, Kasi Jarahnitra, dan Keuangan. Kepada para staf-staf yang sudah berbaik hati pada kami, terima kasih tak terhingga juga tak lupa kami ucapkan.

Sebaliknya, semoga kehadiran kami juga bisa berkesan di hati seluruh pegawai dan staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kutai Kartanegara.

Mahasiswa KKN Universitas Mulawarman Kompetensi Kelompok 007 : Jusmalia Oktaviani, Retno Wulandari, Akhmad Hazairin, Marlisa Audya Putri, dan Lita Astriana.
***

SEKILAS SEJARAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA


SEKILAS SEJARAH

KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA





Ditinjau dari sejarah Indonesia kuno, Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah prasasi yang ditulis diatas yupa (tugu batu) yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa di Muara Kaman Kutai Kartanegara. Berdasarkan paleografinya, tulisan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui adanya sebuah kerajaan dibawah kepemimpinan Sang Raja Mulawarman, putera dari Raja Aswawarman, cucu dari Maharaja Kudungga. Kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman ini bernama Kerajaan Kutai Martadipura, dan berlokasi di seberang kota Muara Kaman.

Pada abad ke-17 agama Islam diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara. Selanjutnya banyak nama-nama Islami yang yang akhirnya digunakan pada nama-nama raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara. Sebutan raja pun diganti dengan sebutan Sultan. Sultan yang pertama kali menggunakan nama Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778). Tahun 1732, ibukota Kerajaan Kutai Kartanegara pindah dari Kutai Lama ke Pemarangan.

Pada tahun 1780, Aji Imbut berhasil merebut kembali ibukota Pemarangan dan secara resmi dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin di istana Kesultanan Kutai Kartanegara. Aji Kado dihukum mati dan dimakamkan di Pulau Jembayan.

Aji Imbut gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin memindahkan ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada tanggal 28 September 1782. perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan pahit masa pemerintahan Aji Kado dan Pemarangan dianggap telah kehilangan tuahnya. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti Rumah Raja, lama-kelamaan Tannga Arung lebih popular dengan dengan sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini.

Pada tahun 1838, Kesultanan kutai Kartanegara dipimpin oleh Sultan Aji Muhammad Salehuddin setelah AjiImbut mangkat pada tahun tersebut.

Pada tahun 1959, berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959 tentang “Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Kalimantan”, wilayah Daerah Istimewa Kutai dipecah menjadi 3 daerah Tingkat II, yakni :

1. Daerah Tingkat II Kutai dengan ibukota Tenggarong

2. Kotapraja Balikpapan dengan ibukota Balikpapan

3. Kotapraja Samarinda dengan ibukota Samarinda

Kabupaten kutai Kartanegara merupakan kelanjutan dari kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Setelah Republik Indonesia berdiri, pada tahun 1947. Kesultananan Kutai kartanegara dengan status daerah Swapraja Kutai, masuk ke dalam federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah kesultanan lainnya, seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur, dan Pasir. Kemudian pada 27 September 1945 masuk dalam Republik Indonesia Serikat (RIS). Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten berdasarkan UU darurat No. 3 tahun 1953.

Berdasarkan UU No. 27 tahun 1959, status daerah istimewa Kutai di hapus dan daerah ini dibagi menjadi 3 daerah tingkat II, yakni :

1. Kotamadya Balikpapan dengan Ibukota Balikpapan

2. Kotamadya Samarinda dengan Ibukota Samarinda

3. Kabupaten Kutai dengan Ibukota Tenggarong

Pada Tahun 1999, wilayah kabupaten Kutai dimekarkan menjadi empat daerah otonom berdasarkan UU No. 47 tahun 1999, yakni :

1. Kabupatern Kutai dengan Ibukota Tenggarong

2. Kabupaten Kutai Barat dengan Ibukota Sendawar

3. Kabupaten Kutai Timur dengan Ibukota Sangatta

4. Kota Bontang dengan Ibukota Bontang

Tanggal 23 Maret 2002, Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarno Putri menetapkan penggunaan nama Kabupaten Kutai Kartanegara melalui peraturan pemerintah RI No. 8 tahun 2002 tentang “Perubahan Nama Kabupaten Kutai Kartanegara”.

HISTORY AT A GLANCE OF KUTAI KARTANEGARA REGENCY

Based on history,
Kutai Kingdom is the oldest Hindu kingdom in Indonesia. This is evidenced by the finding of 7 inscriptions in Sanskrit written above yupa (stone monument) using the Pallawa letter in Muara Kaman Kutai Kartanegara. The Paleography shows that the written is estimated to come from the century-BC 5.


From the inscription, it is known a kingdom by The King Mulawarman, a prince of The King Aswawarman and a grandson of the King Kudungga. The Kingdom is Kutai Martadipura and is located across Muara Kaman city.


In 17th century, Kutai Kartanegara kingdom began to accept Islam. Thereafter names of the King and Kingdom’s family use Moslem’s names. The names of the king was also changed into Sultan. The first Sultan used Moslem name was Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778). In 1732, the capital city of Kutai Kartanegara Kingdom was moved from Kutai Lama to Pemarangan.


In 1780, Aji Imbut successfully taked back the capital city Pemarangan and then was officially appointed as Sultan with honour Sultan Aji Muhammad Muslihuddin in Kutai Kartanegara Kingdom. Meanwhile Aji Kado faced dead finalty and is graved in Jembayan Island.


Sultan Aji Muhammad Muslihuddin replaces the capital city of Kutai Kartanegara
Kingdom to Tepian Pandan on 28 September 1782. The replacement is aimed to erase the bad influences of Aji Kado periods and Pemarangan and was supposed to lost its magical place. The name of Tepian Pandan then was changed into Tangga Arung which means the house of king. Subsequently, the name of Tangga Arung was more popular which remains the same until know.

In 1838, Kutai Kartanegara kingdom is order by Sultan Aji Muhammad Salehuddin after Aji Imbut was dead in that year. In 1959, based on law number 27 year 1959 on the creation of regional government at second level in Kalimantan, the territory of Kutai as a special regional is divided into 3 regional government as below :
1.
Kutai region with the capital city Tenggarong
2.
Municipality Balikpapan with the capital city Balikpapan

3.
Municipality Samarinda with the capital city Samarinda


Basically, Kutai Kartanegara regency is a consecutive government of Kutai Kartanegara Ing Martadipura Kingdom. After Republic of Indonesia was established, in 1947 Kutai Kartanegara Kingdom with status Swapraja Region of Kutai joined East Kalimantan Federation together with other kingdoms, such as Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur, dan Pasir. Then, on 27 December 1945 The Swapraja Region of Kutai was involved in Republic of United Indonesia (RIS).


According to law emergency number 3 year 1953, the status of Swapraja Region of Kutai was changed into special Region of Kutai that holded special autonomy region status at regional level.


Based on Law number 27 year 1959, the status of special region of Kutai was removed and this region was divided into 3 regions as below :


1.
City of Balikpapan
2.
City of Samarinda
3.
Kutai Regency

In 1999, the territory of Kutai regency was developed into four autonomy regions based on law number 47 year 1999 as below :

1.
Kutai regency with the capital city Tenggarong
2.
West Kutai regency with the capital city Sendawar
3.
East Kutai regency with capital city Sangatta
4.
City of Bontang with capital city Bontang

On 23 March 2002, Megawati Soekarno Putri, the President of Republic of Indonesia regulated the new name Kutai Regency becoming Kutai Kartanegara Regency through government Statute number 8 year 2002 on changing Name of Kutai Kartanegara Regency.


tuani sianipar

Rabu, September 09, 2009

DANCE of KUTAI KARTANEGARA

GANJAR GANJUR DANCE

The Ganjar Ganjur dance is an original tradition of the Kutai Kartanegara palace and usually perform in big ceremonies conducted by the relatives of the Palace such as: ceremony to welcome the great guest, the ERAU traditional ceremony, the prince Crowned ceremony, etc. Perform by male dancer called “Beganjar” and female dancer called “Beganjur”.

The male dancer wear costum called “Miskat” as the shirt, and “Dodot” as the pans, while the female wear “Tawo” as the shirt and “Tapih” as the pans. Each dnacer brings a kind of dancing equipment called “Gada” for male and “Kipas” for female. The music used in this dance is gamelan consist of “Bonang” as the melodies and gendang to support it.

JEPEN SAMUNING ANAK DARA DANCE

The art of “Jepen” (in Kutai language) is the art of Malay tradition of Kutai Kartanegara Society. In Malay term (Sumatera), this called Zapin. This art has live and grow in accordance with Islam civilization entered Kutai Kartanegara, East Kalimantan and can be found along the coast of the Mahakam river. This dance is usually perform by the young, using “Gambus” and “Ketipung” or kind of “Marwas” and other percussion.

It is dance that not leave its origin manner which is called the manner of honor, wave, half and full samba, gengsot, broken chicken, horse shoes, etc.

KANCET LASAN PO’BURUY DANCE

Kancet Lasan Po’ Buruy is a dance from Dayak Kenyah tribe in Hinterland of Kutai Kartanegara, East Kalimantan. This dance tells about a group of young man hunting in the forest but came up with nothing, until they saw a bird called Enggang bird. It flew from a tree to tree. And they capture it, then there was an argue about having the bird kept a live or killed. In the middle of argumentation, the bird surprisingly turned into a beautiful princess and beg them not to kill her and promised to give a dancing lesson to all the young villagers. After the princess finished giving the dancing lesson, she asked to be released, so she can fly back to nirvana and they released her with joyful. Therefore the Enggang bird a symbol of peace and becomes a symbol of nobleness of the Dayak Kenyah Tribe.

MEMPANK BEKAWAT DANCE

Is the dance that not leave the origin basic move of Bekian dance, “Ngelawai” dance, “Gantar” dance, which comes from the Dayak Benuaq-Tunjung tribe. Inspired from a ritual ceremonies to heal disease and illnesses started with “Memang” and followed with the sound of God’s flute as a symbol of calling the spirit and ended with praising the spirits to ask for help. Other music instrument that is used in this dance are Kelentangan /Gamelan Benuaq-Tunjung, Gendang, and Gong.

tuani sianipar


Senin, Agustus 31, 2009

SARASEHAN/PERTEMUAN PRESBITER

Tenggarong, 30 Agustus 2009
Seiring dengan berjalannya waktu dan padatnya kegiatan pelayanan di GPIB Efata Tenggarong dan juga dengan semakin dekatnya pengetokan anggaran untuk tahun anggaran 2010 di Pemkab Kutai Kartanegara, maka Pdt. Yorinawa Salawangi, S.Th selaku KMJ beserta dengan Presbiter setelah usai Ibadah minggu pagi dilajutkan dengan Sarasehan/Pertemuan dengan para Presbiter di Jemaat GPIB Efata Tenggarong, dimulai pukul 11.21 yang diawali dengan satu pujian yang dipimpin oleh Pdt. Yorinawa Salawangi, S.Th.

Pertemuan ini membicarakan:
1. Panitia Pembangunan
2. Pengadaan sarana transportasi roda empat
3. Keberadaan beberapa anggota Presbiter yang non aktif
4. Koordinasi kegiatan pelayanan
5. Pembelian LCD

Dalam pertemuan ini terjadi pro dan kontra dalam pengambilan keputusan, dan akhirnya disepakati bahwa Panitia Pembangunan dipercayakan kembali kepada Dkn.C.Bernard Robert (Ketua), Sdr.frans Kunsiang (Sekretaris), Ny.Yudiarta (Bendahara). Nantinya panitia ini akan membuat Master Plant (Program Panjang) dalam pembangunan seperti untuk ASM, Parkir, Konsistori, Pastori, dll. Kemudian juga disepakati bahwa pengadaan kendaraan roda empat akan diupayakan mengingat kondisi pelayanan yang sangat membutuhkan.

Keputusan yang diambil untuk penggantian majelis yang sakit ataupun yang sudah meninggal dunia, atau karena pindah dan berhalangan karena pekerjaan, para presbiter menyepakati bahwa tidak ada penambahan atau penggantian karena presbiter yang ada sekarang masih memadai.

Selain dari beberapa topik diatas, diakhir pertemuan juga dibicarakan tentang pembentukan Panitia natal Jemaat Efata Tenggarong yang nantinya akan di panitiai oleh BPK PKB, dan akan bergilir dengan BPK lain ke depan. Dan PPMJ (Peraturan Pelaksana Majelis Jemaat), Pdt.Yorinawa salawangi,S.Th menjelaskan bahwa di PPMJ ada aturan yang prinsip/sesuai dengan tatanan gereja, ada format dari MS, dan kebijakan setempat, dan tentunya nama yang diusulkan akan disetujui oleh MS.

Pertemuan diakhiri pukul 2.27, dan satu pujian dari KJ.26 dan ditutup dengan doa oleh Pnt.Yohanis Billan.

tuani sianipar

PENEGUHAN PELAYAN PA

Tenggarong, 30 Agustus 2009
Pada Ibadah Minggu pagi, 30 Agustus 2009 yang dipimpin oleh Pdt. Yorinawa Salawangi, S.Th di Efata Tenggarong, diadakan Peneguhan bagi 7 orang Pelayan PA, seperti: Agustina Palembon, Mestia Siahaan, Vivi Massora, Ovra, Lorent Sirenden, Jorani Kende dan Erika Saragi.

Peneguhan ini dimaksudkan adalah karena belum diteguhkannya para Pelayan yang lama yang selama ini sudah melayani di PA, dan diantaranya juga ada sebagian penambahan yang kurang bagi Pelayan PA.

Pdt. Yorinawa Salawangi, S.Th menjelaskan bahwa peneguhan ini ditujukan untuk lebih bertanggung jawab kepada pelayanan, sekarang ini sudah ada 13 orang Pelayan PA di Efata Tenggarong.

Rencananya kedepan Pelayan PA dan PT akan dibuat jadwal rotasi pelayanan untuk menutupi kekurangan pelayan, demikian Pdt. Yorinawa Salawangi, S.Th menjelaskan.

tuani sianipar

Jumat, Agustus 14, 2009

Pulang Kampung

Balige, 14 Agustus 2009
Dua minggu ijin yang diberikan oleh Kadis Budpar Drs.H.M.Idrus Sy,M.Si kepada saya (tuani sianipar) langsung digunakan dengan sebaik-baiknya untuk pulang kampung ke Kota Balige-Kab.Tobasa.

Perjalanan berawal dari Kota Padang-Sumbar, setelah melakukan tugas dinas selama seminggu untuk kegiatan pameran obyek wisata. Perjalanan dari Padang berangkat tanggal 10 Agustus 2009 pkl. 14.30 dan tiba di Balige pkl. 07.00 pagi. Rasa rindu yang terpendam selama diperantauan langsung terobati dengan menginjakkan kaki seturun dari bis ALS di kota Balige, berjumpa dengan orang tua, keluarga, tema-teman, dll.

Kota Balige memang tidak ada perubahan, dari dulu sebelum Kabupaten sampai sekarang setelah Kabupaten, hanya rumah-rumah penduduk yang yang banyak bertambah, itu mungkin karena pertambahan penduduk kota Balige yang bekerja sebagai PNS di Pemkab Tobasa. Fasilitas tidak ada yang dibangun Pemkab, sarana dan prasarana wisata yang tidak terawat, pasar balerong sebagai ciri khas kota Balige yang sembrawut dan semakin sempit, terminal yang tidak tahu modelnya seperti apa, pelabuhan kapal balige yang tidak terawat, tapi itulah Balige, kampung halamanku, tetap kucintai, apapun yang terjadi bagimu kota Balige kau tetap kudukung, kau adalah kota kelahiranku, aku ingin bersemayam di pelukanmu, aku cinta kota Balige.

tuani sianipar

Pameran "Padang Expo 2009"

Padang, 10 Agustus 2009

Setelah pelaksanaan Pesta Adat ERAU Tempong Tawar 26 Juli s/d 3 Agustus 2009 yang dipanitiai oleh Disbudpar Kukar yang sangat melelahkan, Disbudpar Kukar langsung menuju Kota Padang-Sumbar untuk mengadakan pameran tentang obyek wisata.

Berawal dari telaahan staf yang di disposisikan oleh Kadisbudpar Kutai Kartangara Drs.H.M.Idrus Sy,M.Si untuk kegiatan Pameran Obyek Wisatadi Kota Padang-Propinsi Sumbar dari tanggal 31 Juli s/d 10 Agustus 2009.

Rombongan pameran Disbudpar Kukar langsung dipimpin Kadis Budpar dan diikuti oleh beberapa staf.

Pameran berlangsung dengan meriah, banyak pengunjung yang antusias akan keunikan kebudayaan Kukar, juga dengan obyek wisatanya yang sangat indah. Disamping itu pengunjung juga sangat tertarik dengan hasil kerajinan yang dipamerkan.

Buku-buku dan brosur tentang obyek wisata khususnya buku Panduan Wisata dan buku Salasilah Kutai sangat diminati pengunjung. Mereka mananyakan tentang Kutai yang dulunya adalah Kerajaan Tertua di Indonesia dan Pesta Budaya tentang ERAU dan Suku Dayaknya.

Setelah dari Padang, pada bulan Oktober nanti Disbudpar Kukar akan mengadakan promosi juga ke daerah Bali dan Australia, dan langsung dipimpin oleh Kadis Budpar Kukar Drs.H.M.Idrus Sy,M.Si.

tuani sianipar


Rabu, Juli 22, 2009

Bersama Sultan

Foto bersama Sultan Adji Muhammad Salehoddin II, setelah selesai Beluluh Sultan, Rabu 22 Juli 2009 di Kedaton,Tenggarong Kutai Kartanegara



foto : tuani sianipar

Senin, Juli 20, 2009

IBADAH ALAM

IBADAH ALAM Gerakan Pemuda dan Persekutuan Teruna










IBADAH ALAM Gerakan Pemuda dan Persekutuan Teruna
Minggu, 19 Juli 2009
Untuk pertama kalinya 3 BPK (GP-PT-PA) GPIB Efata Tenggarong mengadakan Ibadah Alam yang dimulai sekitar pukul 15.30 wita di lokasi Jembatan Taman Bermain Tenggarong Kutai Kartanegara. Tujuan ibadah ini adalah selain untuk penyegaran karena selama ini ibadah dilakukan di tempatb tertutup atau di rumah-rumah, kita manusia sangat jarang mensyukuri alam ciptaan Tuhan yang sangat indah ini, alam sebagai sumber kehidupan, untuk mengetahui sudah sejauh mana kita merawat/menjaga ala mini, apakah sudah rusak, gundul, untuk mengingatkan kita kembali bahwa apa yang kita duduki/injak ini kita berasal dari tanah.

Dalam ibadah alam ini juga dilakukan acara serah terima/peralihan dari Pelayanan Anak (PA) ke Persekutuan Teruna (PT) sebanyak 16 orang yang didampingi oleh para Pelayan Anak. Pdt.Yorinawa Salawangi, S.Th (KMJ) hadir dalam ibadah ini serta Pnt.Argenes Pardede (Ketua III).

Ibadah dipimpin oleh Sdr. Mario Timbuleng (mahasiswa Praktek) dari Kejadian 3:6-19. Lokasi ibadah alam di Taman Rekreasi dibawah Jembatan Kutai Kartanegara, yang sangat cocok untuk tempat ibadah alam, disamping rumputnya yang hijau, jauh dari kebisingan, sejuk, penuh dengan pohon untuk bernaung, segar, dekat dengan sungai. Bagi anda yang berminat untuk datang kesana, terbuka untuk umum, bawalah keluarga anda, dan jangan lupa bawa kamera. Belakangan, lokasi ini sangat banyak dikunjungi oleh kawula muda.

Setelah ibadah selesai, kemudian dilanjutkan dengan Peralihan dari APA ke APT berjumlah 16 orang. Pnt.Argenes Pardede (Ketua III) menyampaikan sambutannya dalam peralihan ini, kemudian Pdt.Yorinawa Salawangi,S.Rh mengatakan, bahwa anak manusia yang lahir sekarang berbeda dengan manusia pertama. Ketika Adam dan Hawa berada di bumi ini, mereka lahir tidak ada tali pusarnya, Tuhan menciptakan Adam dan Hawa langsung menjadi dewasa, sehingga jelas tidak mempunyai tali pusar. Tapi akhirnya mereka berontak karena tidak ada pembinaan sejak lahir. Maka manusia atau Anak Sekolah Minggu mulai sejak kecil perlu dibina sdecara berkelanjutan/estafet, mulai dari PA ke PT ke GP dst. Ini perlu dilakukan supaya manusia tidak berontak ketika sudah dewasa. Kita harus taat kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Terima kasih buat Pelayan Anak Sekolah Minggu atas bimbingannya, tenaga, waktu yang diberikan kepada anak-anak, juga kepada Pelayan Teruna agar terus dibina anak yang baru dialihkan ini. Pdt.Yorinawa Salawangi,S.Th mengatakan bahwa ibadah seperti ini perlu dilakukan secara terus menerus karena ibadah seperti ini sangat bagus untuk dilakukan. Kepada para pengurus/pelayan GP-PT-PA agar terus melakukan koordinasi untuk kedepannya.

Kemudian dilanjutkan dengan acara kuis yang dipandu oleh Sdr. Panji dan Sdri. Vivi Masora.

Samapi jumpa di Ibadah Alam selanjutnya.
Tuhan Yesus Kristus Memberkati Kita Semua.

Tuani sianipar

Kamis, Juni 25, 2009

LEMBU SUANA

LEMBU SUANA dalam dua versi

Lembu Suana merupakan lambang kebesaran Kerajaan Kutai Kertanegara. Keberadaannya kerap kali dikaitkan dengan legenda Puteri Karang Melenu. Digambarkan dalam mitos tersebut Lembusuana mengangkat Puteri Karang Melenu sewaktu timbul dalam air.

Lembu Suana secara deskriptif digambarkan berbelai gading seperti gajah, bertaring seperti macan, bertubuh seperti kuda, bersayap dan bertaji seakan-akan burung garuda, berekor seperti naga dengan seluruh tubuhnya bersisik.

Setiap bagian memiliki filosofi tersendiri, belalai yang melingkar ke belakang misalnya mensimbolkan kemampuan merangkul semua elemen masyarakat dalam satu wadah, Bertubuh seperti kuda melambangkan kekuatan Kukar, syapnya artinya kemampuan untuk pergi kemanapun ia mau.

Ada dua versi Lembusuana Kutai Kertanegara yaitu yang duduk dn berdiri. Lembusuana duduk, berada di Pulau Kumala dan menaghadap kearah jembatan Kutai Kertanegara I. Lembusuana ini merupakan buah karya seniman patung asal Bali Nyoman Nuarta.

Sedangkan Lembusuana versi berdiri, berada di depan Museum Mulawarman. Lembusuana berwarna emas ini selain terdapat di Museum, duplikatnya juga terdapat di gedung pemerintahan Propinsi Kalimantan Timur dan beberapa gedung lainnya. Kini symbol yang dibuat oleh salah seorang seniman asal Birma-Myanmar.red-bukan hanya menjadi symbol kebesaran kerajaan Kutai Kertanegara namun juga kebanggan Kalimantan Timur

tuanisianipar