SAYEMBARA WISATA LOMBA GAMBAR "GONG PERDAMAIAN NUSANTARA"(GPN)
Pendaftaran dan Pengambilan Formulir : Tanggal 25 Nopember - 2 Desember 2010 di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara Sub Bidang Pengelolaan Obyek dan Sarana kepariwisataan.
Melalui penempatan "Gong Perdamaian Nusantara (GPN)" di Kutai Kartanegara serta tekad kuat Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara beserta seluruh komponen masyarakat, saya yakin dari tanah Kutai ini akan menjadi "Sumber Kebangkitan Ras Nusantara" yang agung yang dapat memimpin peradaban dunia.
Pada masa lalu di tanah Kutai ini sudah melahirkan berbagai peradaban besar. Dinasti Warman yang bermula (Mula=Asal) dari tanah Kutai, pernah berjaya sampai ke Kamboja (daratan Asia sekarang) yang dikenal bernama Raja Jayawarman. Raja Kamboja yang berkuasa dan berjaya di Asia Tenggara pada sekitar abad 7-8 Maehi merupakan keturunan langsung Raja Mulawarman yang agung dari tanah Kutai.
Saya sangat menghargai semangat dan tekad Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara untuk menempatkan dan membangun Monumen Agung "Gong Perdamaian Nusantara" di tanah Kutai. Kita yang hadir diruang ini kelak dicatat oleh sejarah sebagai pelaku utama era kebangkitan Ras Nusantara.
Mulai saat ini, Tanah Kutai dicatat oleh sejarah dengan tinta emas, membawa era baru, era yang membanggakan sebagai "Sumber Spirit kebangkitan Ras Nusantara" yang agung.
The Spirit of Nusantara Tiga Kelompok Ras Nusantara Masa Kini Menurut Presiden Perdamaian Dunia oleh : "Djuyoto Suntani"
Pertama Mereka yang lahir dan besar di Asia Tenggara, seperti Suku Jawa, Sunda, Batak, China, Bugis, Minang, Bali, Aceh, Melayu, Philipino, Thai, Vietnam, Papua, dll.
Kedua Mereka yang tinggal di luar tetapi memiliki hubungan sosial, sejarah dan budaya dengan Asia Tenggara, seperti Barack Hussein Obama (Presiden Amerika Serikat)
Ketiga Mereka yang memilih tinggal, berkarya dan mencari kehidupan di Asia Tenggara, seperti grup musik Sufi DEBU, pemain bola Christian Gonzales, dll.
Eksitensi "Gong Perdamaian Nusantara" (Sarana Persaudaraan dan Pemersatu Nusantara) "Monumen Nusantara Raya" di Kutai Kartanegara, dengan ikon utama bernama "Gong Perdamaian Nusantara (GPN), yang menampilkan : - Lingkaran Luar : Logo 444 Kabupaten/Kota se-Indonesia
- Lingkaran Tengah : Logo 33 Provinsi se-Indonesia
- Lingkaran Dalam : * Tulisan "Gong Perdamaian Nusantara", * Sepasang Bunga (kiri-kanan), symbol keindahan dan keseimbangan, * Tulisan "Sarana Persaudaraan dan Pemersatu Nusantara"
- Lingkaran Inti : simbol 5 Agama yang diakui secara resmi Bangsa Indonesia.
- Lingkaran Puncak : Peta NKRI (negara Kesatuan Republik Indonesia)
Seminar Sehari Tentang Pengembangan Wisata, dengan Tema: Membuka Cakrawala Sejarah dan Budaya Kutai untuk Mendukung Pembangunan Monumen Gong Perdamaian Nusantara dalam rangka Meningkatkan Kunjungan Wisata di Kabupaten Kutai Kartanegara. oleh: Djuyoto Suntani (Presiden Komite Perdamaian Dunia) menyampaikan materi dalam Seminar Sehari (Kamis,25/11) di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara. Dalam seminar ini para peserta berasal dari SKPD Instansi terkait, Guru, Mahasiswa, SMU, Kepolisian, Budayawan, dlsb.
Sambutan Rita Widyasari (Bupati Kutai Kartanegara) yang dibacakan oleh Drs.H.Fahrodin (Plt. Kadis Budpar Kukar) menyampaikan, Gong Perdamaian Nusantara ini yang merupakan Sarana Persaudaraan dan Pemersatu Nusantara dapat menjadi nilai tambah dan menjadi wisata handalan, sektor pariwisata akan menjadi harapan konsep pembangunan berkelanjutan, sejarah yang kita miliki mestinya kita ketahui untuk kita miliki.
Kemudian setelah masa istirahat, dilanjutkan dengan penyampaian materi: Periodesasi Ras Nusantara Memimpin Peradapan Dunia. 1. Periode Nusantara Purba a. Pada 13.000-12.000 tahun Sebelum Masehi, Ras Nusantara dikenal sebagai Bangsa Atlantis menjadi "Pusat Peradaban Dunia". b. Semua Peradaban besar dunia, seperti peradaban Mesir, Yunani, Romawi, Babilon, Mesopotania, India, China, Maya, Inca, Aztek, Persia, Yahudi, dll, berasal dari Nusantara Purba. c. Ras Nusantara adalah Ras Unggul yang melahirkan semua peradaban besar dunia.
2. Periode Nusantara Zaman Masehi a. Pada abad 0-1 Masehi Dinasti Warman di Kutai menyatukan Nusantara. Dinasti Warman yang dimulai=Mula, Mulawarman, berkembang menyatukan Nusantara sampai pada masa Jayawarman yang pusatnya bergeser di Kamboja sekarang. Masa Jaya 70 tahun, kemudian pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. b. Tujuh abad kemudian (abad 7-8) bersatu lagi dalam Panji Kerajaan Sriwijaya di palembang sekarang. Masa jaya Sriwijaya berumur 70 tahun, kemudian pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara. c. Tujuh abad kemudian (abad 14-15) bersatu lagi melalui kerajaan majapahit di Mojokerto-Jawa Timur sekarang. Usia 70 tahun, Majapahit melemah menjadi banyak kerajaan-kerajaan kecil di nusantara. d. Tujuh abad kemudian (abad 20-21) bersatu lagi melalui Republik Indonesia dengan pusat di Jakarta. Menjelang usia 70 tahun (tahun 2015), Indonesia mulai banyak masalah, dirundung pertikaian. e. Apakah HUT RI ke-70 tahun 2015, Ras Nusantara yang bersatu dalam Negara Republik Indonesia bakal "pecah" lagi? f. Tugas kita bersama untuk mencegah jangan sampai pecah. Salah satu caranya yaitu melalui penciptaan dan pembangunan Monumen Nusantara Raya "Gong Perdamaian Nusantara" di Kutai Kartanegara ini yang menampung seluruh aspirasi daerah dalam "satu Gong".
3. Siklus Tujuh Abad Bersatu, 70 tahun Pisah a. Ras Nusantara Zaman masehi punya hitungan siklus kehidupan tiap tujuh abad selalu bersatu, namun pada usia 70 tahun persatuan melemah, lantas bercerai. Masing-masing tokoh/raja bukin kerajaan-kerajaan (negara-negara kecil). b. Uni Soviet dan Yugoslavia pecah pada usia 70 tahun. Uni Soviet yang super power, pada usia sekitar 70 tahun tiba-tiba pecah menjadi 15 negara merdeka. Yugoslavia pada usia sekitar 70 tahun, tiba-tiba pecah menjadi 6 negara.
4. "Gong Perdamaian Nusantara" sebagai Pemersatu Nusantara a. kalau kita sudah tahu bahaya didepan mata yang mengancam perpecahan, maka mari kita sama-sama untuk mencegah. Salah satu caranya adalah dengan spirit "Gong Perdamaian Nusantara" sebagai "Sarana Persaudaraan dan Pemersatu Nusantara". b. Dalam struktur "Gong Perdamaian Nusantara" diakomodir secara adil semua logo/symbol daerah sehingga tidak boleh ada yang merasa tidak diperhatikan.
5. Membawa Kejayaan Ras Nusantara Raya a. Dibali ancaman perpecahan, mari kita sama-sama bangkit bersatu untuk membangun, mengangkat dan membawa Kejayaan Ras Nusantara Raya agar mampu memimpin Peradaban Dunia sebagaimana dilakukan nenek moyang dulu. b. Dari spirit Monumen Raya "Gong Perdamaian Nusantara" di Kutai Kartanegara ini diharapkan sebagai lokomotif menuju kejayaan Ras Nusantara.
Sosialisasi dan tindak lanjut mengenai Peraturan Bupati Nomor 19 Tahun 2010 tentang Penempatan Tenaga Harian Lepas (THL) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara melakukan Sosialisasi dan Tindak lanjut mengenai Peraturan Bupati Nomor 19 Tahun 2010 tentang Penempatan Tenaga Harian Lepas (THL) yang berjumlah 70 orang yang ada di Disbudpar Kab. Kutai Kartanegara pada Jumat 12 Nop.2010 pukul 09.45 di ruang serba guna Disbudpar.
Sosialisasi ini dipimpin oleh Drs.H.Fahrodin (Plh.Kadis Budpar) dan didampingi oleh Drs.Yanto Haryanto (Kabag Kepegawaian), dalam kesempatan ini dijelaskan secara rinci mengenai Perbup untuk menjamin kejelasan status dan pelaksanaan tugas-tugas dari Tenaga Harian Lepas (THL) dilingkungan Pemkab Kukar. Sebagai catatan bahwa THL ini pada awalnya adalah pegawai honor T3D (Tenaga Tidak Tetap Daerah) yang akhir-akhir ini tidak jelas statusnya. tetapi dengan adanya Perbup ini maka akan mermbuat para THL akan semakin tenang dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
THL merupakan tenaga kerja yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang diangkat dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan dan atau sesuai dengan kebutuhan yang ditentukan. Pengangkatan THL bukan merupakan syarat dan bukan untuk diangkat sebagai CPNS. THL bertugas untuk melaksanakan tugas-tugas teknis profesional dan administrasi pada SKPD atau unit organisasi lainnya dilingkungan Pememerintahan Daerah untuk jangka waktu yang ditentukan, demikian sebagian cuplikan beberapa pasal dalam Perbup Nomor 19 Tahun 2010.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara untuk kesekiankalinya mengadakan terobosan dibidang SDM untuk meningkatkan kepariwisataan khususnya Kab. Kutai Kartanegara. Hari terakhir/penutupan Pelatihan Peningkatan SDM dan Profesionalisme Bidang Kepariwisataan (21/10) di lakukan di Samboja (Pantai Tanjung Harapan) Kutai Kartanegara. Peserta pelatihan sebanyak 50 orang berasal dari Kecamatan/Kelurahan se-Kabupaten Kutai Kartanegara, Mahasiswa, Instansi terkait, Pemuda, Guru, Karang Teruna.
Empat orang struktur khusus didatangkan dari ITB Bandung memberikan materi seperti, Yani Adriani ST (Karakteristik Pengunjung Wisata), Ir.Mantiri Paham MBA (Pelayanan Prima), Ir.Ina Herliana Kaswara (Dampka Pengunjung terhadap Pariwisata), Erni Nasution,ST.,MT (Interprestasi Dalam Periwisata Budaya).
Menurut Hj.Rusmalawati,SP (Panitia Pelaksana) menyampaikan bahwa tujuan dari pelaksanaan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan SDM dan Profesionalisme Kepariwisataan agar para peserta setelah kembali ke Kecamatan masing-masing bisa mengembangkan atau memberikan informasi kepariwisataan kepada para pengunjung yang datang ke daerah masing-masing. Masih menurut Hj.Rusmalawati,SP bahwa kegiatan ini adalah yang keduakali dan rencananya akan dilaksanakan tiap tahun.
Hari terakhir kegiatan para peserta diberi tugas untuk melakukan survei tentang lokasi obyek wisata Tanah Merah Samboja. Menurut mereka dari beberapa narasumber mengatakan bahwa Pantai Tanah Merah Samboja terbagi dalam dua zona, zona pertama adalah Tanjung Pude, disebut Tanjung Pude karena ada Pohon Pude (sejarah), dan menurut penduduk setempat bahwa pohon ini angker. Kemudian zona kedua setelah Tanjung Pude, 3 km lagi kedepan adalah Tanah Merah. Konon katanya, dulu terjadi tanah longsor (tanah pasir longsor kemudian menjadi batu dan dibawahnya ada mata air). Masih seputar pantai, menurut para pengunjung pantai ini merupakan pantai yang terbersih yang ada di Kalimantan Timur. Selain daripada itu infrastruktur menuju Pantai Tanah Merah Samboja sangat baik, banyak pohon pinus, pantai bersih, gazebo, dll, lokasi ini banyak digunakan para pengunjung seperti foto pra nikah, pesta laut, dll. Tapi masih ada kekurangannya seprti tidak adanya air bersih, mushola, penginapan yang kurang terawat, keamanan, pendamping, souvenir, warung.
Hj.Rusmalawati, SP diakhir kegiatan mengatakan bahwa rencananya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara akan membangun beberapa fasilitas pendukung seperti, mushola, lahan parkir, keamanan, pendamping tamu, gazebo (sebagian sudah dibangun), dan ini akan menjadi obyek andalan.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara (Rabu,29/9) pkl.09.00 wita mengadakan pelatihan "Pemandu Wisata Terpadu" di Pondok Jajak Indah Tenggarong. Pelatihan ini turut dihadiri oleh Drs.H.Fahrodin (Plt.Kepala Disbudpar), Drs.Asmuni Effendi (Kabid Pemasaran), Destha Titi Raharjana,M.si (Pusat Studi Kepariwisataan UGM DIY), Andi Muhdl'uddin (Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia DIY), Dra.Hj.Srie Iriana (Disbudpar Prop. Kaltim).
Kabupaten Kutai Kartanegara selain dikenal sebagai daerah yang kaya akan SDA, juga dikenal sebagai Daerah Tujuan Wisata seperti Wisata Alam, Sejarah, Budaya, dls.
Untuk meningkatkan citra dan mutu produk serta pelayanan wisata diperlukan tenaga-tenaga pengelola dan pelaksana yang professional, seperti meningkatkan SDM bagi para pemandu wisata untuk memberikan pelayanan maksimal kepada para pengunjung yang datang ke Kutai Kartanegara melalui pelatihan Pemandu Wisata Terpadu yang bekerja sama dengan Pusat Sudi Kepariwisataan UGM Yogyakarta dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prop. Kaltim.
Menurut Nurhansyah,S.Pd (Ketua Panitia) menjelaskan bahwa maksud dan tujuan pelaksanaan pelatihan ini untuk memberikan tambahan pengetahuan dan pengenalan para pemandu wisata agar profesi sebagai pemandu wisata terampil dalam melaksanakan tugas dan kewajiban, meningkatkan citra profesi pemandu wisata dalam meningkatkan pelayanan terhadap wisatawan, dan nantinya mereka akan menjadi pemandu-pemandu wisata yang profesional dan handal dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan.
Peserta Pelatihan Pemandu Wisata Terpadu dihadiri sekitar 150 orang yang berasal dari kalangan mahasiswa, UKM, Duta Wisata dari tahun 2006-2009, beserta para staf Disbudpar Kab. Kukar, dan berlangsung selama 2 hari (28-29 Spt 2010)
Pameran “the 2nd Bali-TITex 2010” (Trade-Investment & Tourism Expo) di Denpasar-Bali (5-8 Agustus) bertempat di Mal Galeria. Pameran ini merupakan sebuah kegiatan yang berskala nasional untuk mempromosikan produk-produk unggulan daerah dan pariwisata nasional untuk semakin dikenal luas oleh masyarakat, baik oleh masyarakat domestik, terlebih oleh masyarakat internasional. Dengan semakin banyaknya produk-produk budaya yang dipamerkan dalam the 2nd Bali-TITex 2010 ini maka nilai transaksi atas produk-produk ini semakin meningkat sehingga dapat memberikan krontribusi yang signifikan bagi perekonomian kita, dan pelancong baik dari dalam negeri maupun luar negeri akan semakin meningkat.
Pembukaan “the 2nd Bali-TITex 2010” (Trade-Investment & Tourism Expo) diawali dengan tarian dari Bali, kemudian Januaransyah Basuki (ketua panitia) dalam sambutannya menyampaikan, pameran ini merupakan yang kedua kali diselenggarakan di Mal Galeria ini, pameran ini rutin dilaksankan karena Bali merupakan destinasi wisata dunia yang banyak dikunjungi baik itu domestik maupun luar negeri. Disini kita dapat mengambil peluang untuk memamerkan produk-produk wisata yang ada di daerah masing-masing.
Kemudian, Drs. Gede Darmaja,M.Si (Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Bali) dalam sambutannya, beliau mengawali dengan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, beliau mengingatkan agar jangan pernah lupa mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkatnya, Indonesia mempunyai dibidang seni, kerajinan, objek yang luar biasa, potensi pariwisata yang luar biasa ini bagaimana kita memajukannya, untuk pengembangannya harus diimbangi dengan potensi-potensi lainnya, dalam pengembangan kepariwisataan kita peran swasta dan masyarakat harus mendukung. Kami dari Pemda (Bali) menyambut baik kegiatan ini, kami menitip pesan kepada peserta pameran yang dari luar Bali agar nantinya setelah kembali ke daerah masing-masing menginformasikan bahwa Bali aman dan kondusif. Saya mengucapkan terima kasih, mudah-mudahan memberikan manfaat bagi Negara yang kita cintai ini. Dalam kesempatan ini beliau juga menyampaikan saran kepada panitia agar membuat evaluasi kegiatan dari tahun kemarin sampai dengan sekarang. Dengan demikian pameran dibuka secra resmi, ditandai dengan pemukulan gong.
Sebelum meninjau arena pameran, dilanjutkan dengan penampilan tim kesenian binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara yang disambut meriah oleh para pengunjung.
“the 2nd Bali-TITex 2010” (Trade-Investment & Tourism Expo) ini diikuti oleh Pemerintah Daerah dari seluruh Indonesia, BUMN & Mitra Binaannya, Perusahaan Swasta Nasional serta Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, seperti dari Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Prov. DKI Jakarta, Dinas Koperasi, UKM, Perindag & Pengelolaan Pasar Kab. Tanggamus, Disbudpar Prov. Bangka Belitung, PKBL PT Perkebunan Nusantara XI (Persero), Dinas Perindag Kota Medan, Dinas Koperasi dan UMKM Prov. Riau, Dinas Koperasi dan UMKM Prov. Sumatera Selatan, Dinas Koperasi dan UKM Kota Samarinda, Dinas Perindagkop Kab. Kutai Kartanegara, PT. Angkasa Pura I, Dinas Pariwisata Kab. Bangka Barat, PT. Pelabuhan Indonesia III, Bagian Perekonomian Setda Kota Tangerang, Kementrian Perdagangan RI, Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian & Perdagangan Prov. Lampung, Badan Promosi dan Penanaman Modal Daerah Prov. Sulawesi Tengah, Dinas Perindag dan ESDM Kab. Jember, Dinas Perindagkop dan UMKM Kab. Bekasi, Dinas Perindag Prov. Banten, Dinas Pemudan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Magelang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Pasuruan, Dinas Koperindag Prov. Sumatera Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Rote Ndao.
Dinas Kebudayaan dan Pariwsata Kab. Kutai Kartanegara memilih Bali sebagai tempat promosi karena Bali merupakan pariwisata dunia yang sudah dikenal dunia yang banyak dikunjungi, Bali merupakan daerah yang tepat untuk menyampaikan informasi terbaru perkembangan produk unggulan wisata dan kerajinannya yang ada. Dalam kesempatan ini Disbudpar Kab. Kutai Kartanegara juga menampilkan tim keseniannya untuk memperkenalkan kepada para pengunjung bahwa Kutai Kartanegara kaya akan kebudayaan.
UPACARA ADAT SAKRAL MALAM BEPELAS (malam I - malam V) Erau Adat Keraton Kutai Kerta Negara Ing Martadipura
Upacara Adat Malam Bepelas dimulai setelah Kepala Adat mengatur sembah kepada Sri Sultan untuk memulai kegiatan acara Adat Malam yang diwujudkan dalam tari-tarian yang satu dengan lainnya saling berhubungan satu kesatuan arti dalam makna antara lain:
Tarian Dewa Belian memuja Ayu yang bermakna untuk menjaga pohon Ayu dari perbuatan roh-roh jahat yang mengganggu acara Bepelas Sultan, dilanjutkan Tarian Dewa Memanah dengan mengelilingi Tiang Ayu yang bertujuan untuk membersihkan atau mengamankan sekeliling lingkungan baik di bumi maupun diangkasa/khayangan.
Menyisik Lembua Suana adalah dengan meletakkan uang logam atau uang kertas diatas karang Lembu Suana yang ditambak dari beras dengan 37 macam warna dihampar dan dibentuk ujud Lembu Suana diatas Tikar Bentian. Meletakkan uang tersebut terserah kepada yang bersangkutan apakah pada sisiknya, matanya, ekornya, tajinya dan lain-lain yang kesemuanya itu mengandung makna tertentu menurut niat yang meletakkan uang tersebut. Dalam menyisik Lembua Suana yang hadir diharuskan memakai busana warna hitam menurut adatnya.
Kemudian dilaksanakan Tarian Dewa Menurunkan Sangiang Sri Gambuh, Pangeran Seri Ganjur bermakna untuk meminta restu kepada Yang Maha Kuasa, dan dilanjutkan dengan Tarian Beganjur sambil mengitari rebak Ayu yang makna meronda menjaga keamanan.
Selanjutnya Tarian Dewa Memulangkan Ganjur ditampilkan yang melambangkan bahwa keadaan aman dan ditandai dengan Dewa dan Belian mulai membacakan mantra (bememang) di Rebak Ayu, memberitahukan kepada para Kemumulan, Sangiang dan lainnya bahwa Bepelas segera akan dimulai.
Setelah beberapa tarian Sakral dilaksanakan, maka Dewa, Belian, Penyuling, Damar Jujagat serta Aji-Aji Perempuan mengaturi Aji Sultan di dondang (Ratu disembah) akan Erau Bepelas.
Upacara Adat Bepelas memiliki makna untuk memuja sukma dan raga Sultan dari ujung kaki sampai keujung rambut memberi kuasa dan kekuatan sehingga mampu mengembang tanggung jawab sebagai raja untuk memelihara dan menegakkan adat.
Setelah upacara Adat Bepelas dilaksanakan, maka Dewa, Belian dan Suling mengantarkan Aji Sultan kembali ke dalam keraton, dan dilanjutkan dengan Tarian Dewa Besaong Manok, Bekanjar Ketore. Tarian ini menggambarkan kegembiraan bahwa Bepelas Sultan sudah terlaksana serta ditandai dengan mengambil Air Tuli dari tepian mahakam (pelabuhan) di depan keraton.
Kemudian seorang Dewa menuju ke gelanggang dengan mengenakan serudung kuning dan naik ke balai untuk menggoyak rendu (Dewa Menggoyak Rendu) yang kemudian dengan diiringi 2 orang pangkon bini. Dewa menghadap Sri Sultan mengaturi untuk bekanjar (menari) bersama-sama para Pangeran, Raden, Bambang Aji, Tokoh dan Tetuha serta hadirin yang hadir disertai bebuang Kamai (menghamburi) oleh Aji Ratu dan Aji-Aji bini.
Lalu para hadirin ikut serta dalam bekanjar bersama-sama mengelilingi Tiang Ayu dengan arah yang berlawanan Seluang Mudik Betebak Beras.
Pihak Laki berada dalam lingkaran sebelah luar dan pihak bini berada di dalam lingkaran sebelah dalam. Tiap kali belaluan (bepapasan) ditandai dengan saling menebakkan (melempar) beras yang sudah disediakan sambil bersuka ria.
Selanjutnya Dewa menjala yaitu Dewa berjalan perlahan sambil menyeret kain kuning seperti menyeret jala menagkap ikan, diiringi oleh Belian yang menyeret gubang (perahu) kecil terbuat dari kayu melalui Sri Sultan. Para Pangeran, Raden, Bambang serta segenap hadirin, masing-masing meletakkan uang kertas atau uang logam kejala kain kuning atau ke gubang yang diseret oleh Dewa dan Belian tersebut. Hal ini menggambarkan kegotong royongan antara raja dan rakyatnya dan ditutup dengan Belian menjuluk buah bawar yaitu Belian Bememang (membaca mantra) dengan membawa sepotong tongkat kayu dan menjuluk Buah Bawar yakni ketikai dan pisang sebagai tanda Acara Adat Malam Bepelas.
Hari terakhir (17/7) lomba mewarnai yang diselenggaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab.Kukar di ruang serba guna Disbudpar berlangsung dengan meriah, banyaknya peserta yang berminat dari orang tua yang mengantarkan anaknya untuk ikut lomba mewarnai.
Drs.H.Fahrodin (Kadis Disbudpar) dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada panitia atas terselenggarakannya kegiatan ini, anak-anak harus lebih banyak belajar dan belajar terus sesuai dengan minat dan bakatnya, tumbuhkan daya kreatifitasmu anak-anakku. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini sudah berlangsung selama lima kali, disampaikan juga kegiatan ini sekaligus untuk mendukung 100 hari program kerja bupati dan wakil bupati yang baru. Fahrodin secara singkat menjelaskan bahwa Disbudpar akan membangun Patung Lembu Swana berdiri.
Sementara Rita Widya Sari (Bupati Kukar) dalam sambutannya menyampaikan, bahwa pesta Adat Erau merupakan kegiatan rutin masyarakat Kutai yang memberdayakan dalam melestarikan budaya kita. Bupati berpesan kepada anak-anak agar dikembangkan seluas-luasnya bakat anak-anak, mari kita sebagai orang tua merlihat kemampuan/bakat anak-anak kita, ini adalah putra-putri terbaik kita, saya berharap agar naka-anak kita ini menjadi anak yang mandiri dan kreatif. Secara resmi loba mewarnai saya nyatakan resmi dibuka.
Setelah resmi dibuka Rita Widya Sari dan HM.Gufron menggoreskan lukisannya diatas kanfas yang telah disediakan panitia.
Para pemenang Lomba Mewarnai Tingkat SD: Favorit : Ardelia Jihan (SD Nurul Ilmi) - Rp. 250.000,- Juara I : Amelia Pawestri (SD Muhammadiyah) - Rp. 1.500.000,- Juara II : Alifa Nasywa Dhiya (SD 002) - Rp. 1.000.000,- Juara III : Nazza (SD 009) - Rp. 750.000,- Hrpn I : Yulinda Kartika (SD 002) - Rp. 500.000,- Hrpn II : Safira (SD IT Nurul Ilmi) - Rp. 500.000,- Hrpn III : Acay (SD 002) - Rp. 500.000,-
Tingkat TK : Favorit : Nadiah (TK RA AS-Salam) - Rp. 250.000,- Juara I : Sabina Gadis (TK ABA) - Rp. 1.500.000,- Juara II : Suana (TK Bayangkara) - Rp. 1.000.000,- Juara III : Riusy Della W (TK RA AS Salam) - Rp. 750.000,- Hrpn I : Ana Dinda Dewantara (TK Pembina) - Rp. 500.000,- Hrpn II : Diendha Fahira (TK Pembina) - Rp. 500.000,- Hrpn III : N. Rizka Amalia - Rp. 500.000,-
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara menggelar kegiatan lomba mewarnai, menggambar dan melukis tingkat TK, SD dan SMP. Lomba ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengembangan kemitraan pariwisata dan untuk mensukseskan pesta Erau Adat Pelas 7 Benua yang dilaksanakan di lapangan parkir Kantor Bupati Kukar pada Jumat (16/7), kategori yang dilombakan adalah tingkat SD dan SMP. Peserta dari SD sebanyak 50 orang untuk kategori menggambar dan dari SMP sebanyak 50 orang untuk kategori melukis. Sementara untuk kategori TK dan SD akan diperlombakan pada esok harinya (17/7) dan masing-masing kategori diikuti 50 peserta.
Menurut dewan juri sebanyak 4 orang terdiri dari Eko, Daru, Sabar dan Triatmo menyampaikan bahwa standar penilaian terdiri dari: kerapian, ketepatan tema, komposisi/pewarnaan, kreatifitas diri, dan ketepatan waktu.
Manusia yang telah meningkatkan dan berkembang sumber daya insaninya sering menganggap dirinya sebagai yang paling berharga. Akibatnya, manusia itu hanya mau melakukan suatu pekerjaan yang membawa penghormatan bagi dirinya, manusia itu dengan sendirinya tidak dapat menggunakan sumber daya insaninya secara benar, maksudnya ialah manusia itu tidak akan mau melakukan suatu pekerjaan sebagai pengorbanan dirinya bagi orang lain
AGENDA
# Natal Jemaat GPIB Efata Tenggarong : 27 Desember 2025 # Natal Jemaat Bajem Marantaha Sebulu : 29 Desember 2025 # Natal Jemaat Pospelkes Getsemani Long Mesangat : 29 Desember 2025 # Natal Pelkat PA GPIB Efata Tenggarong: 3 Januari 2026 # Natal Jemaat GPIB Gloria Maluhu : 27 Desember 2025 # belum ada agenda ... # belum ada agenda ...
Tenggarong - Kutai Kartanegara ERAU pertama kali dilaksanakan pada upacara Tijak Tanah dan Mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara ERAU. Sejak itulah ERAU selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-raja Kutai Kartanegara
ERAU berasal dari bahasa Kutai atau disebut pula EROH yang berarti ramai, hilir mudik, bergembira, berpesta ria yang dilaksanakan secara adat oleh Kesultanan/kerabat Kerajaan dengan maksud atau hajat tertentu dan diikuti oleh masyarakat umum diwilayah administrasi Kesultanan.
Terdapat tiga pelaksanaan ERAU adat dilingkup Keraton Kutai Kartanegara yaitu:
1. ERAU TEPONG TAWAR
2. ERAU PELAS TAHUN
3. ERAU BEREDAR DI KUTAI
ERAU TEPONG TAWAR merupakan Erau adat yang dilaksanakan oleh kerabat keraton pada waktu tertentu (ditetapkan) berdasarkan keinginan (hajat) terhadap suatu pekerjaan. Dalam pelaksanaan ini Raja bergerak bebas, artinya tidak melakukan batasan tertentu yang disebut TUHING.
ERAU PELAS TAHUN mereupakan Erau adat yang dilaksanakan oleh kerabat keraton berhubungan dengan aktivitas kehidupan rakyat (masyarakat) yang bertujuan untuk membersihkan segala macam hal yang mengganggu sumber-sumber kehidupan dipermukaan bumi dalam suatu wilayah kerajaan.
ERAU BEREDAR DI KUTAI merupakan Erau adat yang dilaksanakan oleh kerabat keraton dalam rangka pengukuhan, pengangkatan, penabalan dan segala yang berkaitan dengan Ketahtaan di kerajaan. Dalam pelaksanaan ini Raja melakukan TUHING yaitu tidak menginjak tanah pada waktu tertentu, kecuali diatas kain ALAS BUMI yang dihampar ketempat tujuan.
Subyek yang melaksanakan ERAU ADAT adalah kerabat keraton, bahwa yang di-ERAU-kan adalah Raja, sedangkan yang ERAU adalah rakyat. ERAU dimulai dengan "Mendirikan Ayu" dan diakhiri dengan "Merebahkan Ayu".
Acara Pokok Erau Adat Pelas 7 Benua 2010 1. Menjamu Benua
2. Mendirikan Ayu
3. Menyisikkan Lembu Suana dan Tambak Karang
4. Beluluh
5. Bekanjar dan Beganjur
6. Seluang Mudik
7. Belian dan Bekenjong
8. Dewa Memanah, Besaong Manok dan Menjala
9. Bepelas dan Tepong Tawar
10. Mengulur Naga dan Belimbur
11. Merebahkan Ayu, Beburay dan Syukuran
BELULUH SULTAN
Upacara Beluluh ini dilakukan kepada kepala penguasa dalam pemerintahan atau kerajaan sebagai pembersihan diri, agar didalam menjalankan roda pemerintahan terlepas dari segala macam mara bahaya dan selalu mendapatkan rahmat dan lindungan dari Yang Maha Kuasa. Adapun kelengkapan Beluluh yang merupakan syarat utama dan mutlak ada, yaitu: Balai yang terbuat dari bambu dan dialasi oleh kain kuning, dibawah balai terdapat tambak karang yaitu beras yang telah diberi beraneka macam warna yang ditaburkan dengan bentuk gambar binatang, kemudian disiapkan pula tepung tawar yang terdiri dari beras kuning, mayang, ikatan ketikai lepas yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Setelah prosesi Beluluh dilaksanakan maka para kerabat keraton serta undangan yang hadir juga mendapatkan kesempatan untuk membersihkan diri dengan mengusapkan air bunga yang telah diberi doa keselamatan ke bagian wajah atau badan lainnya.
Menjamu Benua
Menjamu Benua adalah upacara sebagai pemberitahuan kepada yang maha kuasa (dahulu kepada dewa-dewa penguasa alam) bahwa raja/sultan akan melakukan pesta rakyat dengan memohon keselamatan. Menjamu Benua dilaksanakan oleh Kesatuan Belian, yaitu mengundang sengiang-sengiang dan kemumulan-kemumulan yang jumlahnya sekitar 37 orang, untuk memberitahukan akan dimulainya Upacara Erau, agar mendapat restu. Sebelum dewa melakukan prosesi Menjamu Benua, terlebih dahulu memohon restu dari paduka yang mulia Kanjeng Pangeran Adhi Pathi Ario Salehoeddin Kartanegara dengan maksud supaya diberikan berkah dan keselamatan pada saat prosesi Menjamu Benua. Prosesi Menjamu Benua, dilakukan beberapa hari sebelum Erau dimulai yaitu melaksanakan upacara di 3 tempat yaitu, di Kepala Benua (Kampung Mangkurawang), Tengah Benua (depan Keraton Kutai Ing Martadipura), dan Buntut Benua (Kampong Timbau). pada pelaksanaan menjamu Benua dilakukan upacara bebelian, dimana acara ini dilengkapi dengan peralatan Juhan, Telasak, Rumbai dan Stelan pakaian orang yang akan di Eraukan. Sedangkan waktu pelaksanaan dari pagi hingga sore hari.
MENDIRIKAN AYU
Upacara Mendirikan Tiang Ayu dilakukan oleh kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara. Tiang Ayu ini terbuat dari kayu ulin atau biasa disebut Sangkoh Piatu yang diatasnya terdapat beberapa benda seperti satu tandan buah pisang, daun sirih dan ringgi yg terbuat dari helaian daun kelapa (janur). Tiang Ayu ini mempunyai arti dan nilai tersendiri dalam acara ini, yaitu mendirikan kebenaran yang tersurat maupun yang tersirat, serta memiliki kekuatan megis dan memancarkan kekuatan spiritual. Posisi Tiang Ayu sebelum didirikan dalam keadaan berbaring diatas bantal kasturi, membujur kearah barat, tepatnya ujung Tiang Ayu menghadap matahari terbenam. Sebelum Tiang Ayu didirikan diadakan dulu upacara Besawai oleh salah seorang pangeran yang tertua, kemudian Tali Juwita dan Kain Cinde dipegang oleh para bangsawan, kerabat dan orang kebanyakan yang jumlah orangnya selalu ganjil. Tali Juwita dan Kain Cinde yang terikat pada Tiang Ayu ditarik dengan tiga tarikan, setiap sekali menarik mengucapkan yo.....yo.....yo.....sampai tiang ayu itu berdiri seperti apa yang dikehendaki. Pada Tiang Ayu terikat beberapa benda keraton, seperti: (1) Tali Juwita: Melambangkan kekuasaan Sultan Kutai Kartanegara yang berpusat di sungai Mahakam yang airnya deras mengalir kelaut, beranak sungai bercabang tujuh. (2)Kain Cinde: melambangkan adat yang diadatkan dari Kerajaan Kutai Kartanegara yang masih dipegang dan ditaati didalam negerinya. (3)Janur, Daun Sirih, Buah Pinang, disamping sebagai perhiasan tiang ayu, juga mengandung makna bahwa alam dan hutannya memberikan hasil kemakmuran yang berlimpah ruah bagi rakyatnya. (4)Pinggan Tuha: melambangkan petuah, nasehat serta petunjuk bagi orang-orang tua dahulu, bahwa Tiang Ayu dapat dilestarikan pada generasi muda mendatang.
NGULUR NAGA
Upacara Adat Ngulur Naga berarti dengan beramai-ramai membawa Naga ke pelabuhan lalu dinaikkan ke atas kapal yang akan membawa naga ke Kutai Lama diikuti oleh sebagian Dewa, Belian dan 4 baris Pangkon laki dan bini serta petugas pengambil Air Kutai Lama dan pemegang damar Jujagat. Keberangkatan Naga diiringi dengan paluan Keletangan menuju Kutai Lama. Setelah Naga 3 kali beredar di sungai Mahakam di depan kota Tenggarong langsung dibawa menuju ke Kutai Lama, sewaktu melewati buntut pulau Tenggarong, Loa Gagak, Jembayan dan Gunung Lipan dilakukan upacara membuang tigu manok (telur ayam mentah), besawai/memang serta menghambur beras kuning. Setelah dilaksanakan acara Ngulur Naga, maka acara adat Beumban dilaksanakan yang kemudian dilanjutkan dengan Upacara Adat Begorok yaitu Sri Sultan naik ke Balai balai yang terbuat dari Haor kuning, kemudian duduk serta dipayungi dengan kain kuning yang disebut Kirab Tuhing, diatas kain tersebut disembelih seekor ayam jantan yang berbulu merah oleh seorang Menteri Kerajaan dan darah ayam tersebut dimasukkan kedalam piring berpinggir perak. Kemudian dengan jari tangannya darah ayam tersebut oleh Sri Sultan dicecahkan (dicerak) ke dahi atau ke antara dua keningnya. Kemudian Sri Sultan mencecahkan darah ayam tersebut kepada para bangsawan yang dekat darah keturunannya atau para kerabat dekatnya, kemudian darah didalam piring tersebut diedarkan kepada para Pangeran. Kemudian Sultan turun ke Rangga Titi, yaitu Sri Sultan beserta Aji Ratu turun ketepian sungai Mahakam dan mandi di Rangga Titi dengan air yang diambil dari Kutai Lama. setelah itu Sri Sultan memercikkan Air Tuli, yang berarti dimulainya acara belimbur, yakni saling menyiramkan air dan acara ini sampai meluas ke seluruh kota yang merupakan acara Adat Leluhur. Adapun makna dari Belimbur adalah untuk mensucikan diri dari pengaruh-pengaruh jahat sehingga kita kembali suci dan bersih serta menambah semangat untuk membangun daerah. Demikian pula terhadap bumi dan sekitarnya terbersih daripada perbuatan jahat serta dihindari dari segala marah bahaya.
MEREBAHKAN AYU
Merebahkan Ayu ini didahului oleh sawai oleh seorang Pangeran yang tertua. Dilakukan kebalikan dari upacara Mendirikan Ayu. Kain Cinde dan Tali Juwita diulur dan Tiang Ayu direbahkan sampai berbaring diatas bantak (bantal) Kesturi. Direbahkan sebanyak tiga kali dengan beramai-ramai meneriakkan "Yah-yah, Yuh-yuh", kemudian setelah Ayu sungguh-sungguh rebah maka Dewa pun menyembah (menaikkan) Leman. Ayu telah direbahkan menandai berakhirnya acara Adat Erau Tepong Tawar. Selesai Merebahkan Ayu, dilanjutkan dengan membaca doa selamat dan tolak bala, kemudian silaturrahim saling memaafkan. Setelah itu Gong-Golong pun ditabuhkan. Upacara Adat Erau adalah warisan leluhur berupa Adat Istiadat yang wajib dilestarikan, dengan tetap beriman kepada Allah Subhanahu Wata'ala.
LEMBU SUANA
Bentuk tubuh Lembu Suana memang dilihat aneh namun berwibawa dengan arti yang sangat luas. Pertama kali menjelmanya Putri Karang Melenu yang muncul dari permukaan air ditengah-tengah sungai Mahakam didalam gumpalan buyah yang meanak gunung, terlihatlah seekor Lembu Suana yang berpijak diatas batu menjunjung Gong Papar yang didalamnya terbaring seorang jabang bayi perempuan yang kemudian diberi nama Putri Karang Melenu. Cerita purba mengisahkan Lembu Suana tersebut dapat hidup di dua alam yaitu didalam air dan didaratan serta dapat terbang bagaikan burung Garuda. Antara lain Lembu Suana pernah digunakan/membawa Adji Betara Agung Dewa Sakti terbang ke Maja Pahit. Dengan keanehan bentuk tubuh yang dimiliki oleh Lembu Suana tersebut, maka Lembu Suana disebut dan disanjung seperti berikut: Bergading berbelalai seperti gajah, Bertaring seperti rupa macan, Bersisik seperti ikan, Bentuk tubuhnya seperti kuda, Berekor gada seperti rupa naga, Bersayap seperti rupa burung garuda, Berketopong seperti raja, Berbicara seperti manusia, Genggam kakinya seperti srigala.
HUDOQ
adalah topeng yg dibuat dari kayu/jantung yg dilukis menurut wajah dewa. Hudoq merupakan penjelmaan dari para Dewa yg berdiam ditempat2 tertentu menurut keprcayaan Suku Dayak. Hudoq biasanya diundang turun ke dunia oleh mereka saat menanam padi. Hudoq datang utk berdialog dgn masyarakat dan menari serta bergaya menurut irama gong. Tarian ini merupakan ungkapan kegembiraan hati org2 dibumi dlm menerima tamu yg membawa keselamatan dan rejeki yg murah. Adapun makna kedatangan Hudoq ini kedunia adlh utk membawa rejeki murah, hasil yg berlimpah ruah serta membasmi segala macam penyakit baik manusia maupun tanaman padi yg baru ditanam
M. Op. Salhsa Sianipar
1 April 1939 - 4 Mei 2014 (75 thn)
HORAS
lelah.... aku berlelah-lelah.... aku berlelah-lelah, sampai habis tenagaku pengertian manusia tidak ada padaku,
siapakah yang naik (ke sorga) lalu turun, yang telah mengumpulkan angin dalam genggamannya, yang telah membungkus air dengan kain, siapa namanya dan siapa nama anaknya
engkau tentu tahu!
ILMU
....saya tidak punya kesempatan untuk sekolah di universitas, saya mengembara dan bekerja dan itulah sekolah saya. apa arti sebuah ilmu? dia akan berarti jika ia berguna bagi rakyat. bukan untuk mencetak orang-orang sombong dan hidup jauh dari rakyat, tetapi bekerja dan mengabdi untuk rakyat.