Kongres Dunia CIOFF, 20-29 Okt 2017 - EIFAF, 22-30 Juli 2017 - Festival Kota Raja, 27 Spt-1 Okt

"Pelaksanaan Kongres Dunia CIOFF ke-47 Tahun 2017 dilaksanakan pada tanggal 20-29 Oktober 2017 di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Indonesia"

Selasa, Desember 23, 2014

Rombongan Pelkat PKB GPIB EFATA Tenggarong (22/12) sebanyak 3 mobil berangkat menuju Kecamatan Sebulu-SP2 untuk mengikuti Ibadah Perayaan Natal Bajem Maranatha Sebulu. Sepanjang perjalanan yang kami lalui masih banyak jalan yang diperbaiki, membuat perjalanan kami sedikit terganggu, yang seharusnya dapat ditempuh selama 1 jam menjadi 1,5 jam, sehingga kami terlambat tiba di lokasi.

Ibadah sedang berlangsung saat kami tiba di Gereja GPIB Bajem Maranatha Sebulu Kab. Kukar, yang dipimpin oleh Pdt. Yosep Aeng, S.Th dari Matius 2:1-12 dijelaskan, Apakah kita sebagai orang majus atau herodes yang pura-pura. Saya berharap kita sebagai orang majus yang datang berjalan dari jauh untuk memuji DIA. Dia datang untuk kita dan kita seharusnya menyambut Dia. Mari berbuat yang terbaik buat Dia, buat kemuliaan Dia.

Ratusan undangan memenuhi gedung gereja hingga halaman gereja yang dipasang tenda oleh panitia. Ibadah berjalan dengan hikman dan tentram, diisi puji-pujian, seperti vical group, paduan suara, solo, tarian, manortor, dll.

James Marpaung, S.Pd (ketua panitia) dalam sambutannya mengatakan, Perayaan natal bukan hanya rutinitas tapi ada makna yang diambil. Kami mengucapkan terima kasih kepada Desa Manunggal Daya yang telah banyak membantu gereja kami, semoga hubungan kemitraan antar gereja dan pemerintah dapat berjalan dengan baik, dan kepada seluruh panitia yang telah membantu sehingga perayaan berjalan dengan baik.

Ucapan terima kasih juga disampaikan oleh Suryanto, S.Pd (Kepala Desa Manunggal Daya) kepada pengurus gereja dan panitia atas undangannya dapat hadir disini. Pembangunan di desa Manunggal Daya SP2 adalah tanggung jawab kita bersama dalam kemitraan untuk kemajuan bangsa. Disampaikan lagi, kesejahteraan dan kemakmuran harus kita capai, mari saling menghargai untuk membangun desa kita, kita benahi mulai dari aparatur desa, para tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh agama. Pembangunan tidak berarti apa-apa tanpa bantuan masyarakat. Mari kita tingkatkan rasa persaudaraan sebagai modal pembangunan kita.

Dari pemerintah setempat yang mewakili kecamatan Sebulu, Kuncoro, S.Sos dalam sambutannya sedikit menyinggung kewaspadaan terhadap penyakit masyarakat yang marak terjadi yang dapat merusak generasi bangsa ini.

DAMAI DI BUMI DAMAI DI SURGA

www.tuanisianipar.blogspot.com
www.pariwisatakukar.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar